Jumat, 22 Juni 2012

Alasan Formalin Tidak Boleh Dimakan

Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol. Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen.

Rumus kimia formalin

Formalin dalam kehidupan Sehari-hari


Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya. Formaldehid memiliki banyak manfaat, seperti anti bakteri atau pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak.. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).

Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan.
Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran. Untuk pengawetan biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi 10%.

Besarnya manfaat di bidang industri ini ternyata disalahgunakan untuk penggunaan pengawetan industri makanan. Biasanya hal ini sering ditemukan dalam industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar dan tidak terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, sebagai bahan pengawet biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen. Bila tidak diberi bahan pengawet makanan seperti tahu atau mi basah seringkali tidak bisa tahan dalam lebih dari 12 jam.

Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga formalin dipakai di industri plastik. bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca. Sehingga formalin juga banyak dipakai di produk rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau melamin. Bila piring atau gelas tersebut terkena makanan atau minutan panas maka bahan formalin yang terdapat dalam gelas akan larut. 

Dari penelitian hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 ­ 9,22 miligram per liter.
Barang-barang tersebut bila digunakan dalam keadaan dingin sebenarnya tidak berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.

READ MORE - Alasan Formalin Tidak Boleh Dimakan

“MIKROPROPAGASI”

A. Pengertian Mikropropagasi

Mikropogasi merupakan perbanyakan dari galur tanaman yang terpilih melalui teknik kultur jaringan.

B. Macam-Macam Mikropropagasi

1) Produksi tanaman dari tunas-tunas aksilar

Produksi tanaman dengan merangsang terbentuknya tunas-tunas aksilar merupakan teknik  mikropropagasi yang paling umum dilakukan. Ada 2 (dua) metode produksi tunas aksilar yang dilakukan yaitu: kultur pucuk (shoot culture atau shoot-tip culture) dan kultur mata tunas (satu mata tunas: single-node culture; lebih dari satu mata tunas: multiple-node culture). Kedua teknik kultur ini berdasarkan pada prinsip perangsangan terbentuknya atau munculnya tunas-tunas samping dengan cara mematahkan dominasi apikal dari meristem apikal.

2) Kultur pucuk (shoot culture atau shoot-tip culture)

Kultur Pucuk (Shoot culture) adalah teknik mikropropagasi yang dilakukan dengan cara mengkulturkan eksplan yang mengandung meristem pucuk (apikal dan lateral) dengan tujuan perangsangan dan perbanyakan tunas-tunas/cabang-cabang aksilar. Tunas-tunas aksilar tersebut selanjutnya diperbanyak melalui prosedur yang sama seperti eksplan awalnya dan selanjutnya diakarkan dan ditumbuhkan dalam kondisi invivo.
Istilah yang digunakan untuk teknik kultur pucuk ini tergantung dari eksplan yang digunakan. Jika eksplan yang digunakan adalah ujung pucuk-pucuk apikal (panjang ± 20 mm) saja maka tekniknya disebut sebagai shoot-tip culture, namun bila eksplan yang digunakan adalah ujung pucuk apikal beserta bagian tunas lain dibawahnya disebut sebagai shoot culture. Besar kecilnya eksplan yang digunakan mempengaruhi keberhasilan kultur pucuk. Semakin kecil eksplan, semakin kecil kemungkinannya untuk terkontaminasi oleh mikroorganisme namun semakin kecil juga kemampuannya untuk beregenerasi dan memperbanyak diri. Sebaliknya, semakin besar eksplan yang digunakan maka semakin besar kemampuannya untuk beradaptasi dalam kondisi invitro, namun makin besar juga kemungkinannya untuk terkontaminasi, makin banyak kebutuhannya akan media dan makin besar wadah/botol kultur yang diperlukan. Oleh karena itu perlu diketahui ukuran eksplan yang sesuai untuk masing-masing varietas dan spesies tanaman.

Pertumbuhan pucuk, inisiasi dan perbanyakan tunas aksilar yang dihasilkan umumnya dirangsang dengan cara menambahkan hormon pertumbuhan (umumnya sitokinin) ke dalam media pertumbuhannya. Perlakuan ini dapat merangsang pertumbuhan tunas samping dan mematahkan dominasi apikal dari pucuk yang dikulturkan. Selain itu, dominasi apikal juga dapat dihilangkan dengan perlakuan-perlakuan lain misalnya pemangkasan daun-daun yang terdapat pada buku-buku tunas atau meletakkan eskpan dalam posisi horisontal. Tunas-tunas aksilar yang dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai stek miniatur bagi proses perbanyakan berikutnya. Dengan teknik ini dan disertai dengan sub kultur dapat diperoleh banyak sekali plantet dari satu eksplan. Dengan membatasi jumlah sub kultur sampai maksimal 8–10 kali dapat diperoleh klon tanaman yang true-to-type. Teknik ini telah digunakan secara luas untuk perbanyakan tanaman termasuk tanaman hortikultura seperti pisang, asparagus, anggrek Cymbidium, dll.

3) Kultur mata tunas/single-node atau multiple-node culture (invitro layering)

Kultur mata tunas ini merupakan salah satu teknik invitro yang digunakan untuk perbanyakan tanaman dengan merangsang munculnya tunas-tunas aksilar dari mata tunas yang dikulturkan. Seperti halnya kultur pucuk, eksplan yang digunakan dalam kultur mata tunas dapat berasal dari tunas lateral, tunas samping atau bagian dari batang yang mengandung satu atau lebih mata tunas (mengandung satu atau lebih buku). Dikenal dua teknik kultur mata tunas yaitu eksplan yang mengandung mata tunas lebih dari satu ditanam secara horisontal di atas medium padat (teknik invitro layering) atau (2) tiap buku yang mengandung satu mata tunas dipotong-potong dan ditanam secara terpisah dalam tiap-tiap botol kultur.

Seperti halnya teknik kultur pucuk, pertumbuhan tunas-tunas aksilar juga berdasarkan pada prinsip pematahan dominasi apikal. Oleh karena itu, pertumbuhan tunas-tunas aksilar ini terjadi jika eksplan (mata tunas) ditanam pada media yang mengandung sitokinin dalam konsentrasi cukup tinggi sehingga sitokinin ini dapat menghentikan dominasi pucuk apikal dan menyebabkan berkembangnya tunas-tunas aksilar. Tunas aksilar yang terbentuk selanjutnya dipisah-pisahkan dan dapat langsung ditanam pada media pengakaran sehingga diperoleh tanaman baru yang sempurna atau digunakan kembali sebagai bahan tanam untuk perbanyakan selanjutnya. Tunas-tunas tersebut selanjutnya diakarkan, diaklimatisasi dan selanjutnya ditanam di lapangan. Teknik ini telah lama dan banyak dipergunakan untuk perbanyakan tanaman hortikultura seperti kentang, asparagus, melon, semangka, anggrek, dan banyak lagi lainnya.

4) Induksi pembentukan tunas dari meristem bunga

Meristem bunga dapat juga dirangsang untuk membentuk tunas-tunas vegetatif dalam kondisi invitro. Eksplan yang digunakan adalah inflorescence bunga yang belum matang (immature inflorescences) yaitu yang belum membentuk organ-organ kelamin jantan dan betinanya. Penggunaan infloresence yang telah dewasa akan menghasilkan pembentukan organ bunga bukan kuncup vegetatif. Beberapa contoh tanaman hortikultura yang diperbanyak dengan teknik ini adalah brokoli, kol bunga, krisan dan sugar beat.

5) Inisiasi langsung tunas adventif

Tunas adventif adalah tunas yang terbentuk dari eksplan pada bagian yang bukan merupakan tempat asal terbentuknya (bukan dari mata tunas atau buku). Tunas-tunas adventif ini dapat terbentuk langsung dari eksplan tanpa melalui proses terbentuknya kalus terlebih dahulu. Teknik ini merupakan salah satu teknik mikropropagasi yang juga banyak dilakukan dan dapat menghasilkan plantlet dalam jumlah jauh lebih banyak dari teknik terdahulu (pembentukan tunas aksilar). Proses pembentukan tunas adventif langsung dari jaringan eksplan seperti akar, pucuk dan bunga disebut organogenesis.

Terjadinya organogenesis dipacu oleh adanya komponen-komponen seperti medium, komponen endogen selama eksplan mulai dikulturkan, dan senyawa-senyawa yang terbawa selama inisiasi eskplan. Selain itu organogenesis dipacu juga oleh keberadaan zat pengatur tumbuh eksogen di dalam medium. Tunas dan akar terbentuk pada beberapa lapis sel tipis pada eksplan beberapa spesies oleh adanya perbedaan konsentrasi antara auksin dan sitokinin. Inisiasi akar dapat dipacu dengan penambahan NAA dan zeatin dan pembentukan tunas dipacu dengan penambahan sitokinin seperti zeatin atau benzylaminopurine tanpa penambahan auksin. Pada beberapa spesies organogenesis terbentuk pada lapisan epidermal selama kultur invitro, misalnya pada tanaman Begonia rex (Dodds dan Robert, 1983).

Menurut Torrey (1966 dalam Dodds dan Roberts, 1983) membuat hipotesis bahwa organogenesis dari kalus diinisiasi dengan pembentukan kluster sel-sel meristem (meristemoid) mampu merespon pada faktor-faktor dalam jaringan untuk memproduksi primordium. Inisiasi pembentukan akar, tunas dan embrioid juga dipengaruhi oleh faktor-faktor internal alamiah.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap rhizogenesis termasuk auksin, karbohidrat, pencahayaan, dan fotoperiode. Pada beberapa kultur jaringan auksin memacu pembentukan akar, sedangkan adanya auksin eksogen dapat menghambatnya dan rhizogenesis dapat distimulasi oleh anti-auksin.
Keberhasilan pembentukan tunas adventif secara langsung ini sangat tergantung pada bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan serta sangat dipengaruhi oleh spesies atau varietas tanaman asal eskplan tersebut. Pada tanaman yang responsif, hampir semua bagian tanaman (daun, akar, batang, meristem, dll.) dapat dirangsang membentuk organ adventif, namun pada tanaman lainnya tunas adventif ini hanya dapat terbentuk pada bagian-bagian tanaman tertentu saja seperti umbi lapis, embryo atau kecambah.
Seperti halnya teknik mikropropagasi lainnya, tunas adventif secara langsung ini terbentuk melalui serangkaian tahap mulai inisiasi (Tahap 1). Setelah eksplan berada pada kondisi aseptis dan tunas mulai tumbuh, eksplan dapat langsung disubkulturkan ke media perbanyakan (atau media yang sama dengan inisiasi: tergantung varietas) untuk memperbanyak tunas-tunas adventif dari mata tunas adventif yang telah terbentuk pada tahap sebelumnya.

Tunas-tunas tersebut selanjutnya dipisahkan, diakarkan dan diaklimatisasi untuk memproduksi tanaman lengkap dan utuh yang dapat tumbuh dalam keadaan alamiah.
Teknik ini telah banyak digunakan secara komersial untuk perbanyakan tanaman-tanaman hortikultura khususnya tanaman-tanaman hias. Contoh tanaman hias yang diperbanyak dengan teknik ini adalah tanaman-tanaman keluarga Gesneriaceae, seperti Achimenes, Saitpaulia, Sinningia dan Streptocarpus. Pada tanaman-tanaman tersebut, tunas langsung terbentuk dari eksplan daun tanpa pembentukan kalus terlebih dahulu.

6) Somatic embryogenesis langsung

Embrio aseksual atau embrio somatik (somatic embryo) adalah embrio yang terbentuk bukan dari penyatuan sel-sel gamet jantan dan betina atau dengan kata lain embrio yang terbentuk dari jaringan vegetatif/somatik. Embrio ini dapat terbentuk dari jaringan tanaman yang dikulturkan tanpa melalui proses yang dikenal dengan nama somatic embryogenesis. Jika proses ini terbentuk langsung pada eksplan tanpa melalui proses pembentukan kalus terlebih dahulu, maka prosesnya disebut somatic embryogenesis langsung (direct somatic embryogenesis).

Beberapa jenis tanaman hortikultura (misalnya jeruk) dapat secara alamiah membentuk embryo aseksual ini. Dalam kondisi alamiah, embrio aseksual ini terdapat terutama pada tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan lebih dari satu embryo pada bijinya misalnya pada jeruk, atau tanaman yang menghasilkan biji-biji vegetatif (apomixis) misalnya pada manggis. Selain itu, embrio aseksual ini dapat juga terbentuk dari jaringan-jaringan tanaman seperti ovule, jaringan nukleus (nucellar embryoni), jaringan integumun pada ovule (misalnya pada pepaya), jaringan pembungkus biji/mesocaps pada wortel. Tanaman-tanaman tersebut dapat juga membentuk embrio aseksual ini secara invitro.

Dalam kondisis invitro, embrio aseksual ini dapat terbentuk secara langsung dari eksplan-eskplan embrio (seksual/zygotic) dari golongan monokotil dan dikotil, dari kecambah muda (hipocotyl dan cotyledon), dan bagian eksplan juvenil lainnya. Embrio aseksual ini dapat digunakan sebagai salah satu cara perbanyakan tanaman secara invitro. Embrio yang telah terbentuk dapat dimultiplikasi, selanjutnya melalui beberapa proses perkembangan sampai masak dan dapat berkecambah membentuk tanaman utuh. Tanaman ini selanjutnya diaklimatisasi dan ditanam pada kondisi alamiahnya. Teknik ini digunakan untuk perbanyakan beberapa tanaman hortikultura terutama anggrek dimana embrio aseksual (berupa protocorm like body, plb) terbentuk dari dari meristem, daun, dll.

7) Pembentukan organ penyimpan cadangan makanan mikro

Beberapa jenis tanaman dapat dikembangbiakan secara vegetatif dengan menggunakan organ penyimpanan seperti tuber, rhizome, bulbus, dll. Organ-organ penyimpanan ini juga bisa dihasilkan pada tanaman-tanaman yang memang secara alamiah memproduksi organ penyimpanan tersebut. Teknik untuk mendapatkan organ penyimpanan ini sangat bervariasi tergantung pada jenis jaringan yang dikulturkan. Organ penyimpanan mikro ini dapat digunakan sebagai bibit untuk penanaman langsung di lapangan atau ditanam untuk produksi umbi-umbi bibit. Beberapa jenis organ penyimpanan mikro yang telah dikembangkan adalah pembentukan umbi lapis mikro (bulbil) pada amarylis dan lili paris, pembentukan corm mikro (cormlet) pada gladiol, pembentukan protocorm pada anggrek dan pembentukan tuber mikro (tuberlet) pada kentang.

Umbi lapis mikro (bulbil) dan corm mikro (cormlet)

Umbi lapis mikro (bulbil/bulblet) dan kormus mikro (cormlet) dapat dirangsang untuk terbentuk secara invitro pada spesies-spesies tanaman yang secara alamiah dapat membentuk bulbus dan corm. Bulbil dapat terbentuk langsung pada kuncup/tunas aksilar dan dapat pula terbentuk pada tunas adventif yang terbentuk dari eksplan daun, ovary, inflorescence, dan diantara lapisan-lapisan daun bulbus.
Dominasi tunas-tunas apikal seringkali menghambat terbentuknya tunas-tunas adventif pada potongan eksplan bulbus. Subkultur potongan bulbus tersebut dapat merangsang terbentuknya bulbil atau terbentuknya tunas-tunas adventif dimana bulbil nantinya dapat terbentuk. Propagul yang dihasilkan dan diaklimatisasi dapat berupa plantlet, plantlet yang mengandung bulbil atau dorman bulbil. Contoh tanaman yang menghaslkan bulblet adalah lili, dan bawang-bawangan.

Beberapa jenis tanaman monokotil lainnya dapat memproduksi organ penyimpanan mikro pada dasar batangnya (corm), seperti pada gladiol. Cormlet pada gladiol dapat terbentuk langsung pada jaringan eksplan, pada kalus, atau pada plantlet yang telah berakar namun masih dalam botol kultur setelah daun-daunnya mengalami senescence. Cormlet yang dihasilkan secara invitro ini dapat digunakan langsung sebagai bibit di lapangan atau digunakan sebagai eksplan untuk kultur berikutnya.

Tuber mikro (tuberlet) pada kentang

Tanaman-tanaman yang secara alamiah dapat memproduksi tuber dapat juga memproduksi tuber mikro (tuberlet) secara invitro dalam lingkungan kultur yang sesuai. Dalam kultur invitro tuberlet ini dapat terbentuk langsung pada batang plantlet dan tuber muncul pada tunas-tunas aksilar sepanjang tunasnya. Tuber ini biasanya terbentuk pada batang plantlet yang ditanam dalam media yang mengandung sitokinin pada konsentrasi tinggi. Tuber ini biasanya lebih mudah terbentuk pada kondisi gelap dibandingkan dengan penanamannya dalam kondisi terang. Tuber mikro yang dihasilkan secara invitro ini dapat langsung digunakan sebagai bibit di lapangan dan dapat memproduksi tanaman kentang yang normal. Selain itu, tuberlet ini juga dapat digunakan sebagai bahan tanam dasar untuk produksi umbi bibit kentang berkualitas.

Pembentukan Tuber Kentang Mikro yang Diperoleh dari Kultur Pucuk Umur 10 minggu Setelah Inisiasi, skala bar = 10 mm (Sumber: Trigiano & Gray, 2000)

C. Teknik Mikropropagasi

Propagasi klonal in vitro dikenal dengan istilah mikropropagasi. Kata klon digunakan pertama kali oleh Webber untuk tanaman budidaya yang dihasilkan dari propagasi vegetatif. Jadi propagasi klonal adalah multiplikasi dari individu gen identik melalui reproduksi aseksual sedangkan klon itu sendiri adalah satu populasi tanaman derivat (turunan) dari satu individu tunggal yang dihasilkan melalui reproduksi aseksual.
Seiring dengan perkembangan pemahaman dan kemajuan kultur jaringan maka dewasa ini teknik-teknik kultur jaringan telah digunakan untuk berbagai tujuan termasuk industri bibit tanaman. Teknik perbanyakan mikro (mikropropagasi) telah lama digunakan dan merupakan salah satu contoh menarik dan klasik dari penerapan teknik kultur jaringan. Teknik ini dilakukan dengan cara menanam eksplan berupa pucuk beserta jaringan meristemnya yang dikenal sebagai teknik kultur pucuk (Shoot tip culture) atau menanam tunas lateral dengan satu atau lebih buku (single node and multiple node culture). Teknik terakhir juga dikenal dengan istilah in-vitro layering.

Perbanyakan mikro secara umum dapat diartikan sebagai usaha menumbuhkan bagian tanaman dalam media aseptis kemudian memperbanyak bagian tanaman tersebut sehingga dihasilkan tanaman sempurna dalam jumlah banyak. Tujuan utamanya adalah memproduksi tanaman dalam jumlah besar dan waktu yang singkat.
Teknik ini juga dikenal dengan upaya clonning untuk memproduksi klon tanaman dari jaringan vegetatif. Oleh karena itu tanaman yang dihasilkan melalui upaya clonning ini adalah identik atau serupa dengan induknya.

D. Manfaat Teknik Mikropropagasi.

Teknik perbanyakan in-vitro ini dilakukan dalam industri bibit karena teknik ini memiliki manfaat , antara lain:


  1. Dapat digunakan untuk memproduksi bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat. Salah satu keunggulan mikropropagasi adalah perbanyakan organ tanaman yang dihasilkannya. Penggunaan hormon pertumbuhan sintetis memungkinkan perbanyakan eksplan dalam jumlah banyak dan waktu singkat. Perbanyakan di dalam wadah kecil memungkinkan dilakukan perbanyakan cepat ini. Dewasa ini telah dilakukan automatisasi dalam mikropropagasi menggunakan mesin pembuat media dan sterilisasi media, pemotongan dan sterilisasi ekspan yang dikendalikan dengan komputer sehingga dapat dilakukan perbanyakan secara lebih cepat dan lebih efisien.
  2. Dapat menghasilkan bibit dengan ukuran seragam. Produksi klon secara in vitro dapat dikontrol lebih mudah dbandingkan produksinya dilapangan karena perbanyakan dilakukan dalam wadah kecil. Oleh karena itu bisa dihasilkan klon dengan ukuran yang seragam dalam saat yang bersamaan. Penanaman bibit yang seragam mempermudah pemeliharaan tanaman di lapangan dan panen dapat dilakukan secara serempak.
  3. Tidak membutuhkan eksplan dalam jumlah banyak sehingga menghindari kerusakan tanaman induk. Sebaliknya stek, cangkok, penyambungan/penempelan yang intensif dari satu pohon induk dapat mengganggu pertumbuhan tanaman induk bahkan dapat merusaknya.
  4. Dapat digunakan untuk perbanyakan cepat tanaman langka, tanaman dengan nilai ekonomis tinggi, atau varietas unggul hasil pemuliaan tanaman.
  5. Dapat digunakan untuk memproduksi dan memperbanyak tanaman yang bebas virus melalui teknik kultur meristem.


Penyakit virus menyebabkan banyak kerugian dan kehilangan produksi tanaman pertanian. Seringkali infeksi virus tidak menyebabkan gejala awal yang dapat dilihat, namun akan nampak mengurangi vigor atau penampilan tanaman dan menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil. Dewasa ini belum ada cara pengendalian dan pemberantasannya yang efektif. Hal ini menjadi masalah bagi tanaman hortikultura yang diperbanyak secara vegetatif misalnya kentang dan jeruk karena virus akan terbawa oleh keturunanannya. Isolasi dan penaman jaringan yang bebas virus (meristem) secara in vitro telah berhasil memproduksi klon kentang dan jeruk bebas virus.

Selain manfaatnya tersebut, perbanyakan dengan teknik kultur jaringan ini juga memiliki kelemahan antara lain agar usaha ini berhasil diperlukan ketrampilan khusus, fasilitas pendukung produksi yang khusus, mungkin diperlukan metode-metode khusus untuk mengoptimalkan produksi masing-masing varietas tanaman dan spesies dan karena metode yang dewasa ini tersedia membutuhkan banyak tenaga kerja maka biaya produksinya umumnya tinggi.

Selain hal tersebut dapat terjadi variasi tanaman yang dihasilkan dari perbanyakan secara in-vitro sehingga tanaman yang dihasilkan berbeda dengan induknya. Variasi ini dikenal dengan istilah “variasi somaklonal” karena variasi muncul pada klon yang dihasilkan dari organ-organ somatik (vegetatif). Hal ini dapat terjadi karena tanaman terus menerus dan dalam waktu lama ditanam dan diperbanyak dalam media yang mengandung hormon pertumbuhan tertentu.

Variasi ini juga timbul bilamana eksplan ditanam dalam media yang memungkinkan terbentuknya kalus. Pembelahan sel yang sangat cepat pada kalus dapat mengakibatkan perubahan genetis sel-sel kalus akibat penyimpangan informasi genetis yang diterima oleh masing-masing sel kalus tersebut.

Variasi somaklonal ini dapat dikurangi dengan cara :


  1. Membatasi jumlah sub-kultur dan perbanyaknnya,
  2. Menanam dalam medium tanpa hormon pertumbuhan untuk satu atau dua periode sub kultur dan
  3. Jika memungkinkan menghindari perbanyakan melalui kultur kalus. Namun pada beberapa jenis tanaman, terutama tanaman yang tidak bisa diperbanyak dengan stek dan sulit dirangsang pembentukan tunas-tunas adventifnya maka kultur kalus yang diregenerasikan melalui organogenesis dan embryogenesis merupakan alternatif perbanyakan yang memungkinkan. Apabila variasi somaklonal tidak dapat dihindari, perlu dilakukan pengujian sifat-sifat tanaman yang diregenerasikan sebelum klon dijual secara komersial.


Manfaat Mikropropagasi Dalam Pemuliaan Tanaman

Teknik mikropropagasi dalam pemuliaan tanaman pada umumnya digunakan antara lain:


  • Untuk menghasilkan tanaman bebas penyakit (nematoda, mycoplasma, viroid, virus, jamur dll.).
  • Menghasilkan kultivar baru atau tanaman superior, hybrid baru, seleksi dan klon local, genotip elit.
  • Menghasilkan galur tetua jantan steril.
  • Menghasilkan induksi mutan secara spontan
  • Membuat variasi genetik.
READ MORE - “MIKROPROPAGASI”

Tumbuhan Monocotyledone - Dicotyledone

Tumbuhan Monocotyledone

No.
Palmae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1         
Palem Merah
2         
Palem Kuning
3         
Palem raja
4         
Palem botol    
5         
Palem Merah atau Pinang Merah
Cyrtostachys renda
6         
Pinang
Areca catechu
7         
Kelapa
8         
Enau/kolang-kaling
9         
Kurma
10     
Kersula
Metroxylon sagu
11     
Lontar/siwalan/atep
12     
Salak  
13     
Rumbia/Sagu
14     
Rotan             
Calamus rottan
15     
Gebang
16     
Kelapa Sawit  
Elaeis guineensis
17     
Nipah
Nypa fruticans
18     
Nibung
Oncosperma tigillarium
19     
Enau atau Aren
Arenga pinata
20     
Siwalan atau Lontar
Borassus flabellifer




No.
Anggrek-anggrekan (Orcidaceae)
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Anggrek Antel-antelan
Cichorium intybus
2.       
Anggrek albert           
3.       
Anggrek bulan sumatera
Phalaenopsis sumaterana
4.       
Anggrek Hitam
Coelogyne pandurata
5.       
Anggrek hartinah
6.       
Anggrek jamrud
7.       
Anggrek Kalung
Coelogyne dayana
8.       
Anggrek Koribas
Corybas fornicatus
9.       
Anggrek kebutan
10.   
Anggrek karawai
Dendrobium catinecloesum
11.   
Anggrek kasut kumis
12.   
Anggrek ko aksara
13.   
Anggrek kasut berbul
14.   
Anggrek Larat
15.   
Anggrek Mutiara
Coelogyne asperata
16.   
Anggrek raksasa Irian
17.   
Anggrek stuberi
18.   
Anggrek tebu




No.
Rumput-rumputan
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Akar Wangi
Andropogon citratus
2.       
Ara Sungsang
Asystasia gangetica
3.       
Agar-agar
Gracilaria lichenoides
4.       
Agar-agar Mayang/rumput Laut
Gracilaria converfoides
5.       
Bakung
Crynum asiaticum
6.       
Bayam Pasir
Cyathula prostrata
7.       
Bulung Sutera/rumput Laut
Hypnea charoides
8.       
Hiptis 
Hyptis capitata
9.       
Kodes/rumput Laut    
Gelidiopsis rigida
10.   
Rumput Aur
Murdannia keisak
11.   
Rumput Bayam
Corchorus acutangulus
12.   
Rumput Fatimah
Labisia pumila
13.   
Rumput Jarum
Andropogon aciculatus
14.   
Rumput Jarum
Chrysopogon aciculatus
15.   
Rumput Jejarongan
Chloris barbata
16.   
Rumput Kelurut
Lophatherum gracile
17.   
Rumput Kawat
Lycopodium cernuum
18.   
Rumput Kenop
Kyllinga monocephala
19.   
Rumput Lampuyangan
Panicum repens
20.   
Rumput Lampuyangan
Panicum convolutum
21.   
Rumput Lampuyangan
Panicum aquaticum
22.   
Rumput Lampuyangan
Panicum hygrocharis
23.   
Rumput Lampuyangan
Panicum nyanzense
24.   
Rumput Lampuyangan
Panicum chromatostigma
25.   
Rumput Lampuyangan
Panicum ischaemoides
26.   
Rumput Malela
Brachiaria mutica
27.   
Rumput Mutiara
Hedyotis corymbosa
28.   
Rumput Mutiara         
Oldenlandia corymbosa
29.   
Sembung Kuwuk
Blumea lacera

 


No.
Liliaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Astelia
Astelia alpina
2.       
Asparaga
Asparagus setaceus
3.       
Bawang Bombay
Allium cepa
4.       
Bawang Putih
Allium sativum
5.       
Bawang Prey  
Allium porrum
6.       
Bawang Kucai           
Allium tuberosum
7.       
Bawang Merah
Allium cepa var. aggregatum
8.       
Bawang Daun
Allium fistulosum
9.       
Cakar Ayam   
Hemerocallis fulva
10.   
Kucai
Allium odorum
11.   
Kembang Sungsang
Gloriosa superb
12.   
Kembang Torong
Hippeastrum puniceum
13.   
Lancuran
Dianella javanica
14.   
Tegari
Dianella Montana




No.
Poaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Bambu Duri Ori
Bambusa arundinacea
2.       
Bambu Cina
Bambusa multiplex
3.       
Bambu Krisik
Bambusa tuldoides
4.       
Blambangan   
Arundinella fuscata
5.       
Bambu Duri
Bambusa bambos
6.       
Bambu Sasa
Bambusa forbesii
7.       
Bambu Nitu
Bambusa amahussana
8.       
Bambu Embong
Bambusa horsfieldii
9.       
Jukut Pahit
Axonopus compressus
10.   
Kembalan Alus          
Agrostis infirma
11.   
Larasetu
Andropogon muricatus
12.   
Palmarosa
Andropogon martini
13.   
Rabukasong
Apluda mutic
14.   
Sere
Andropogon nardus




No.
Musaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Pisang Ambon
Musa paradisiaca var. sapientum
2.       
Pisang Batu
Musa brachycarpa
3.       
Pisang Hias
Musa ornata
4.       
Pisang Kipas  
Revenala madagascariensis
5.       
Pisang Ungu
Musa acuminata






Tumbuhan Dicotyledone

No.
Solaneceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Arum Dalu
Cestrum nocturnum
2.       
Bunga Tiga Hari         
Brunfelsia ansericana
3.       
Cabai Rawit
Capsicum frutescens
4.       
Cabai  
Capsicum annum
5.       
Ceplukan        
Physalis angulata
6.       
Ceplukan Peru
Physalis peruviana
7.       
Dubois
Duboisia leichardtii
8.       
Grandiflorum 
Solanum grandiflorum
9.       
Ginseng India
Withania somnifera
10.   
Kecubung Gunung
Datura suaveolens
11.   
Kecubung Pendek
Datura stramonium
12.   
Kentang         
Solanum tuberosum
13.   
Melati Kosta  
Brunfelsia uniflora
14.   
Pepino
Solanum muricatum
15.   
Petunia
Petunia hybrida
16.   
Paprika           
Capsicum annuum var. grossum
17.   
Ranti
Solanum nigrum
18.   
Rumput Meranti
Physalis minima
19.   
Terung Belanda
Cyphomandra betacea
20.   
Tembakau
Nicotiana tabacum
21.   
Terung Pipit
Solanum torvum
22.   
Tomat
Lycopersicon esculentum
23.   
Terung Susu
Solanum mammosum
24.   
Terung Siam
Solanum sanitwongsei
25.   
Terung Teter
Solanum verbacifolium
26.   
Terung Dayak
Solanum ferox
27.   
Terung Nigor
Solanum indicum




No.
Leguminoceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin

  1.  
Kacang Panjang
Vigna sinensis

  1.  
Kacang Laut
Vigna marina

  1.  
Kacang Tolo Lembut
Vigna hosei

  1.  
Kacang Hijau
Phaseolus radiatus

  1.  
Kacang Emas
Phaseolus lunatus

  1.  
Kembang Merak
Caesalpinia pulcherrima

  1.  
Kacang Tolo
Vigna unguiculata

  1.  
Kacang Bogor
Vigna subterranea

  1.  
Kacang Tanah
Arachis hypogaea

  1.  
Kacang Hias
Arachis pintoi

  1.  
Kacang Gude 
Cajanus cajan

  1.  
Kacang Kapri Polong
Pisum sativum var. arvense

  1.  
Kacang Bindi
Abelmoschus esculentus

  1.  
Kedawung
Parkia javanica

  1.  
Kacang Merah
Vigna angularis

  1.  
Kacang Kapri Biji
Pisum sativum

  1.  
Petai
Parkia speciosa

  1.  
Petai Cina
Leucaena glauca




No.
Rosaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Duchesnea indica
2.       
Rubus reflexus
3.       
Pyrus malus
4.       
Ciscus bicolor
5.       
Prunus persica
6.       
Prunus serrulata
7.       
Rubus rosaefolius
8.       
Cissus discolor
9.       
Parinari corymbosa
10.   
Eriobotrya japonica
11.   
Parastemon urophyllum
12.   
Rosa chinensis
13.   
Rosa multiflora
14.   
Rosa villosa
15.   
Prunus mume
16.   
Prunus domestica
17.   
Prunus salicina
18.   
Rubus idaeus
19.   
Fragaria x ananassa
20.   
Fragaria vesca




No.
Piperceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Piper sarmentosum
2.       
Piper retrofractum
3.       
Piper methysticum
4.       
Piper caninum
5.       
Piper cubeba
6.       
Piper aduncum
7.       
Piper nigrum
8.       
Piper lolot
9.       
Piper betle
10.   
Piper caducibracteum
11.   
Piper crocatum
12.   
Peperomia sanderii
13.   
Peperomia pellucida


No.
Casuarinaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Casuarina junghuniana
2.       
Casuarina equisetifolia
3.       
Casuarina sumatrana




No.
Polygonaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Coccoloba uvifera
2.       
Antigonon leptopus
3.       
Polygonum chinense
4.       
Polygonum multiflorum
5.       
Muehlenbeckia platyclada
6.       
Rheum officinale
7.       
Polygonum barbatum
8.       
Polygonum cuspidatum
9.       
Rumex acetosa


No.
Portulaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Portulaca grandiflora
2.       
Portulaca oleracea
3.       
Portulaca quadrifida
4.       
Kolesom
Talinum racemosum
5.       
Talinum triangulare
6.       
Portulaca grandiflora
7.       
Talinum paniculatum




No.
Anonaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Polythia glauca
2.       
Rollinia mucosa
3.       
Annona reticulata
4.       
Annona marcgravii
5.       
Artabotrys odoratissimus
6.       
Polyalthia longifolia
7.       
Miliusa horsfieldii
8.       
Cananga odorata
9.       
Guatteria rumphii
10.   
Anomianthus dulcis
11.   
Annona cherimola
12.   
Anaxagorea javanica
13.   
Annona muricata
14.   
Annona squamosa


No.
Myristicaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Horsfieldia irya
2.       
Myristica fragrans
3.       
Myristica fatua
4.       
Myristica argentea

No.
Amarantaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Alternanthera strigosa
2.       
Althaea rosea
3.       
Alternanthera philoxeroides
4.       
Amaranthus blitum
5.       
Amaranthus hybridus
6.       
Cyathula prostrata
7.       
Amaranthus spinosus
8.       
Celosia argentea
9.       
Amaranthus tricolor
10.   
Alternanthera amoena
11.   
Celosia cristata
12.   
Alternanthera sessilis
13.   
Amaranthus caudatus
14.   
Aerva sanguinolenta
15.   
Achyranthes aspera
16.   
Amaranthus lividus

No.
Nyctaginaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Bougainvillea glabra
2.       
Mirabilis jalapa
3.       
Pisonia alba
4.       
Pisonia sylvestris



No.
Moraceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Ficus racemosa
2.       
Morus macroura
3.       
Antiaris toxicaria
4.       
Artocarpus nitidus var. humilis
5.       
Ficus benjamina var. varigata
6.       
Ficus carica
7.       
Ficus fistulosa
8.       
Ficus benjamina
9.       
Ficus annulat
10.   
Artocarpus champeden
11.   
Ficus glabella
12.   
Ficus microcarpa
13.   
Artocarpus camansi
14.   
Artocarpus fulvicortex
15.   
Ficus elastica
16.   
Artocarpus ansiophyllus
17.   
Morus alba
18.   
Artocarpus heterophyllus
19.   
Ficus ampelas
20.   
Streblus asper
21.   
Artocarpus communis
22.   
Artocarpus dadah
23.   
Sloetia elongata
24.   
Artocarpus nitidus var. griffithii


No.
Lorantaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Kemanden
Dendrophtoe pentandra
2.       
Mangandeuh
Macrosolen cochichinensis
3.       
Pasilan
Viscum articulatum


No.
Aizoaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Sesuvium portulacastru
2.       
Trianthema portulacastrum






No.
Magnoliaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Manglietia glauca
2.       
Elmerrillia ovalis
3.       
Michelia champaca
4.       
Michelia figo
5.       
Michelia alba
6.       
Talauma candollii
7.       
Magnolia Blumei
8.       
Elmerrillia celebica


No.
Nymphaeaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Nymphaea nouchali
2.       
Nymphaea alba
3.       
Nymphaea lotus
4.       
Victoria Amazonica
5.       
Nymphaea rubra
 

No.
Euphorbiaceae
Nama Tanaman / Nama Daerah
Nama Latin
1.       
Ande-ande
Antidesma ghaesembilla
2.       
Anting-anting 
Acalypha australis
3.       
Akalifa
Acalypha wilkesiana
4.       
Buni
Antidesma bunius
5.       
Bintungan
Bischofia javanica
6.       
Bedara
Baccaurea motleyana
7.       
Ekor Kucing
Acalypha hispida
8.       
Garu
Antidesma montanum
9.       
Huni Munding
Antidesma velutinosum
10.   
Imer
Breynia cernua
11.   
Kanyere Badak
Bridelia glauca
12.   
Kemiri
Aleurites moluccana
13.   
Kucing-kucingan        
Acalypha indica
14.   
Ketupa
Baccaurea dulcis
15.   
Menteng         
Baccaurea racemosa
16.   
Mafai Setambun
Baccaurea ramiflora
17.   
Rambai Hutan
Baccaurea angulata
18.   
Tokbrai
Blumeodendron tokbrai
19.   
Tampoi
Baccaurea macrocarpa
20.   
Tampir Kidang
Antidesma tomentosum
21.   
Teh-tehan
Acalypha siamensis
22.   
Teh-tehan Merah        
Acalypha microphylla

READ MORE - Tumbuhan Monocotyledone - Dicotyledone